I WAS A STRANGER (2026) – FILM HUMANIS YANG GETIR TANPA PERLU DIPERMANIS
Berbicara tentang efek kekejaman perang dan penjajahan memang tidak ada habisnya. Berbagai kisah dalam film pun sudah menceritakan berbagai kisah tragedi tersebut baik dalam film naratif maupun dokumenter. Namun ada satu yang akan memberi kesan panjang di awal tahun 2026 ini, yaitu film I Was A Stranger.
Diproduksi oleh Angel Studios
yang berfokus pada film bertema kemanusiaan, I Was A Stranger yang
disutradarai oleh Brandt Andersen berfokus pada kisah lima orang asing yang
bersinggungan di sebuah permasalahan pelik akibat perang, pengungsi. Dibintangi
oleh Yasmine Al Massri, Yahya Mahayni dan Omar Sy, I Was A
Stranger siap mengetuk nuranimu saat tayang di bioskop mulai hari ini.
SINOPSIS
Berfokus pada lima karakter yang
bersinggungan di tengah kisruh perang di Aleppo, Suriah. Kita menyaksikan
perjalanan seorang dokter, penyair dan tentara Suriah, penyelundup dari Turki,
serta Kapten Kapal Patroli Yunani dalam sebuah kisah perjuangan untuk
menyelamatkan nyawa dan mengusahakan kehidupan yang lebih baik daripada hidup
dalam kungkungan teror perang.
ULASAN
Intens, menyesakkan dan
memilukan. Kisah kelima tokoh dan keluarga dalam I Was A Stranger memang
kelam seakan tanpa harapan, tapi di dalamnya kita bisa melihat berbagai tipe karakter
manusia. Para pejuang kehidupan, ‘pengkhianat’ baik hati, pengambil keuntungan
tanpa hati, kepala keluarga penuh tanggung jawab dan orang asing penuh kasih.
Tak ada pemenang sejati dari
peperangan. Menang jadi arang, kalah jadi abu, itu adalah pepatah yang sering
digaungkan, namun kita tahu yang sesungguhnya terjadi, ada pihak-pihak yang mendapat
keuntungan. Sementara rakyat jelata jadi korbannya. Nyawa harus dipertahankan,
hidup layak diperjuangkan. Pergi ke tempat yang lebih baik satu-satunya jalan.
Mengungsi dan menjadi seorang stranger istilah lain dari pengungsi.
Bagi rakyat Aleppo yang mengungsi
di Turki, Eropa adalah tujuan mereka, dan negara yang terdekat untuk memasuki
Eropa adalah melalui Yunani yang berbatasan perairan dengan Turki. Mereka rela membayar
sejumlah uang kepada para penyelundup yang memberikan akses dengan perahu karet
dan pelampung seadanya, dibuat dramatis dengan bahan bakar seadanya hingga ditolong
oleh kapal patroli Yunani. Gila, tak berperikemanusiaan, tapi itulah yang
terjadi.
Film I Was A Stranger memotret perjalanan beberapa rakyat yang mencoba mengungsi dari lima sudut pandang yang membuat penonton memahami motivasi dari kenekatan mereka. Didukung akting brilian dari nama-nama yang mungkin tidak banyak dikenal di Indonesia, kecuali Omar Sy yang cukup populer dengan film Intouchables atau serial Lupin miliknya.
Nama seperti Yasmine Al-Massri
tampil tegar sebagai Amira, dokter yang mencoba memberi rumah aman untuk putrinya,
Yahya Mahayni sebagai tentara yang di tengah kebimbangan antara membela
negara atau rakyat, serta Ziad Bakri penyair yang ingin menyelamatkan
istri dan 3 anaknya dari ancaman perang. Casting aktor yang presisi dan hebat!
Dari sisi teknis, sutradara Brandt
Andersen dengan baik mampu menggambarkan situasi perang di Aleppo, Suriah
dengan baik tanpa banyak menggunakan stock shots perang yang nyata.
Gambar-gambar kota yang penuh reruntuhan cukup membuat iba, apalagi disertai
desingan pesawat jet dan sebuah adegan bom yang mengejutkan. Suasana
pengungsian dan proses menyebrang lautan juga dipresentasikan dengan baik,
meskipun terasa kurang established shots untuk menggambarkan betapa besarnya
dampak perang pada para pengungsi.
Satu catatan penting dalam film I Was A Stranger adalah penggunaan musik theme yang mencekam sepanjang durasi. Tak heran musiknya begitu padu dengan tema filmnya berkat jasa Atticus Ross pentolan band Nine Inch Nails, yang biasa berpartner dengan sang vokalis, Trent Reznor. Atticus dan Trent sudah malang melintang di dunia komposer musik untuk film seperti The Social Network dan Tron: Ares yang banyak menyandang pujian.
KESIMPULAN AKHIR
I Was A Stranger adalah
sebuah drama lima sudut pandang kisah tentang perjuangan dan harapan manusia
untuk menggapai kehidupan yang lebih baik. Pilu, menyesakkan, tragis namun
menginspirasi, tontonlah film ini untuk memahami bahwa masalah pengungsi adalah
masalah kemanusiaan, dan sebagai manusia, ini adalah masalah kita semua.
I Was A Stranger tayang di bioskop Indonesia mulai hari ini.




Komentar
Posting Komentar