ROSARIO (2025) – TEROR KUTUKAN MENGERIKAN DI APARTEMEN
Dalam sejarahnya Hollywood cenderung minim memproduksi film horor dengan latar belakang budaya amerika latin. Tercatat The Curse of La Llorona adalah film horor blockbuster terakhir dengan mitologi hantu latin atau Paranormal Activity: The Marked Ones dengan karakter latin amerika. Tapi yang paling berbekas bagi kami adalah horor asal Argentina, Terrified.
Kini dalam film Rosario,
sutradara Felipe Vargas berusaha mengisahkan kutukan yang menimpa
karakter dari keluarga Amerika Latin, lengkap dengan ritual okultisme dan praktek-praktek
agama lokal yang misterius. Dibintangi Emeraoude Toubia, David Desmtalchian,
Jose Zuniga dan Paul Ben-Victor, Rosario tayang mulai
hari ini di bioskop.
SINOPSIS
Di tengah kesibukannya sebagai
financial advisor selevel manager di bidang saham, Rosario (Emeraoude Toubia)
mendapat kabar neneknya meninggal dunia sendirian di apartemennya. Badai
salju diterjang oleh Rosario demi menemani jenazah sang nenek yang masih
menunggu datangnya ambulance jenazah.
Setiba di apartemen neneknya, Rosario
ditemani pemilik gedung, Marty (Paul Ben-Victor) dan tetangga sang
nenek, Joe (David Destmalchian) yang pertama kali menemukan
jenazah sang nenek. Berdua dengan jenazah nenek jadi awal teror yang dialamii
oleh Rosario. Teror berupa kutukan yang membuatnya diburu oleh sosok jahat,
kejam dan sadis yang meminta nyawa Rosario.
ULASAN
Dibuka dengan adegan pesta ulang
tahun Rosario remaja yang baru saja melakukan sakramen komuni
pertama, penonton dibawa ke sebuah ritual rahasia yang dilakukan oleh sang
nenek yang hampir dipergoki oleh Rosario. Pesta bahagia itu pun jadi sebuah
peristiwa misterius yang diingat oleh Rosario hingga dewasa.
Ketika misteri dimunculkan
kembali, Rosario sudah menjadi wanita karier sukses dengan keahlian di bidang
perdagangan saham. Memiliki asisten, supir pribadi dan ruangan kantor besar
jadi penanda kesuksesan Rose, panggilannya. Namun naskah memberi bumbu konflik
pada hubungan keluarga Rose yang memburuk. Ayah ibunya cerai, Rose tidak lagi
dekat dengan ibu dan keluarga dari pihak ibunya, termasuk sang nenek yang
meninggal dunia.
Perjalanan singkat kehidupan dan
konflik famili ini diceritakan dengan ringkas dalam film berdurasi singkat 88
menit ini, keseluruhan sisa durasi langsung dihabiskan di dalam apartemen nenek
yang penuh rahasia.
Rahasia inilah yang jadi pengikat utama penonton betah mengikuti teror demi teror yang dialami Rosario. Situasi badai salju membuat Rosario makin terjebak, lengkap dengan para penghuni apartemen yang mencurigakan. Sutradara Felipe Vargas cukup lihai menciptakan efek kejut dengan berbagai sentuhan jumpscares kreatif memanfaatkan makhluk seram, sudut-sudut gelap dan permainan kamera yang lincah. Sebuah kerja solid dalam debut film panjangnya.
Naskah yang ditulis oleh Alan
Trezza memang terbilang sederhana, bahkan cenderung repetitif mengingat
karakternya terjebak di apartemen dan terlalu dikendalikan rasa penasaran
sehingga banyak mengambil keputusan bodoh yang membuat penonton kesal. Hal ini
lazim dan menjadi trope film horor, tapi kadang kebodohan dan ignorance
karakter ada batasnya. Untungnya sang karakter mendapat efek jera dengan
teror-teror yang cukup memacu adrenalin, membuat niat nonton horor tercapai
dengan baik.
Dari sisi akting, aktor utama Emeraoude Toubia tampil mengesankan di film debutnya. Meski tersandera dengan kepercayaan diri karakternya, tapi kemampuannya menggali rahasia sang nenek bisa diacungi jempol. David Dastmalchian (The Suicide Squad, The Life of Chuck) juga tampil baik dan misterius meski dalam peran minim durasi. Penampilan mengesankan ditampilkan Jose Zuniga (Sound of Freedom) sebagai ayah yang peduli pada putrinya.
Kesimpulan Akhir
Berisikan dominasi teror horor di
dalam apartemen, Rosario jadi sangat mengasyikkan berkat misteri
kutukan yang menimpa Rosario. Siapa yang mengutuk? Kenapa ia dikutuk? iblis
macam apa yang memiliki kutukan? Dan bagaimana lepas dari kutukan? Semua
terjawab dalam film Rosario.
Rosario tayang di
bioskop mulai 31 Oktober 2025.




Komentar
Posting Komentar