THE SMASHING MACHINE (2025) - KOLABORASI THE ROCK & STUDIO A24 UNTUK OSCAR!
Nama Dwayne 'The Rock' Johnson sudah menjadi nama besar di Hollywood sejak peralihan profesinya dari pegulat bebas menjadi aktor. Berbagai film peraih Box Office dan franchise besar meraih keuntungan besar berkat jasa The Rock yang terlibat di dalamnya. Fast & Furious, The Mummy atau Jumanji jadi saksi betapa pentingnya kehadiran mantan pemegang gelar juara WWE ini.
Kini memasuki 23 tahun karir aktingnya setelah film pertama The Scorpion King, The Rock hadir dalam usahanya menasbihkan diri sebagai seorang aktor berkelas Oscar dalam film biopik dari salah satu petarung pertama di ajang tarung gaya bebas MMA (Mixed Martial Arts), Mark Kerr., berjudul The Smashing Machine. Produksi Studio indie A24 dengan sutradara muda berpengalaman Benny Safdie (Uncut Gems) ini juga menampilkan Emily Blunt, Ryan Bader, Kenny Rice dan Jerin Valel. sebagai aktor pendukung.
The Smashing Machie, taynag 10 Oktober di bioskop Indonesia.
SINOPSIS
Karier Mark Kerr (Dwayne Johnson) di olahraga gulat sudah mentereng dan sudah saatnya beralih profesional ke sebuah jenis olahraga hiburan terbaru yang mengadu ahli bela diri dari berbagai jenis disiplin dalam sebuah arena berbentuk octagon dalam bentuk pertarungan gaya bebas. Bersama rekannya sesama jawara gulat, Mark Coleman (Ryan Bader) usaha untuk mempopulerkan olahraga bertajuk Ultimate Fighting Championship (UFC) ini terhalang aturan yang belum jelas dan berbagai larangan.
Keduanya pun memilih bertarung di kompetisi bertajuk PRIDE di Jepang. Di sepanjang tahun 1997-2000, Mark Kerr yang semakin populer di dunia UFC tenggelam pada kecanduan obat penahan rasa sakit. Efek kecanduan itu pun mulai mempengaruhi karier dan kehidupan pribadinya, termasuk hubungan asmaranya dengan Dawn (Michelle Blunt) yang penuh hiruk-pikuk dan suka-duka.
ULASAN
Nama Mark Kerr sebagai atlet gulat dan UFC profesional yang tidak sementereng pegulat macam The Rock, John Cena, Dave Bautista atau Steve Austin memang menjadi salah satu ganjalan bagi kami sebelum menyaksikan film The Smashing Machine. Akan tetapi, jaminan nama studio A24, sosok Dwayne 'The Rock' Joohnson dan sutradara muda Benny Safdie menepis keraguan kami untuk berangkat menonton The Smashing Machine dengan membawa ekspektasi film ini akan membawa gaya independen dalam genre biopiknya.
Hasilnya sesuai ekspektasi kami. Narasi film yang berlatar waktu tahun 1997 sampai 2000 dengan lokasi Amerika Serikat dan Jepang berjalan dengan gaya independen dengan tone klasik, shaky cam, gaya doku drama minim dialog serta pemilihan alur dan penyelesaian masalah minim dramatisasai. Sisi kisah kelam hidup Mark Kerr dikuliti baik secara fisik dan mental dalam The Smashing Machine.
Memang trailernya sedikit mengecoh, dengan gaya quick cuts trailer yang seakan menampilkan Mark Kerr dengan banyak pertarungannya di ring, nyatanya pertarungan memang cukup banyak tapi beberapa tidak melibatkan karakter Kerr, melainkan juga Coleman rekannya yang juga mengikuti kompetisi yang sama. Padahal yang ingin diceritakan sesungguhnya adalah pergulatan Kerr dalam menghadapi kecanduannya pada obat-obatan penahan rasa sakit serta pengaruhnya pada karier dan hubungan asmaranya dengan Dawn.
Benny Safdie sebagai sutradara benar-benar mengeskplorasi akting The Rock mulai dari memakaikan prostetik yang membuatnya makin mirip dengan Kerr, adu akting dengan Emily Blunt dengan hubungan emosi naik-turun mengarah ke toksik, serta berbagai momen-momen hening dalam menampilkan emosi dan kebimbangan karakter Kerr dalam melawan ketergantungan obatnya.
Gaya tutur yang dipresentasikan dalam film ini memang bukan buat semua orang, namun sebuah penyegaran rasanya melihat The Rock tampil di luar peran-peran yang biasa ia mainkan. Meski tidak jauh dalam profesinya terdahulu sebagai pegulat, tetapi ia sukses menampilkan sosok atlet dengan ego tinggi, yang tidak tahu rasanya 'kalah'. Kerr di tangan The Rock terlihat tenang walau dalam hati kalut karena tidak mengetahui bagaimana menghadapi kekalahan. Momen Kerr bingung menghadapi kekalahan itu ditampilkan dengan kualitas akting hebat The Rock dalam sebuah sekuens long take sulit.
Tak hanya The Rock, Emily Blunt juga memberikan performa akting menawan. Dengan perannya sebagai Dawn yang seharusnya menjadi penyeimbang Kerr, Blunt sukses menampilkan sisi rapuh Dawn yang mengalami kesulitan dalam usahanya membantu menyembuhkan Kerr, padahal ia sendiri juga punya masalah pribadi.
KESIMPULAN AKHIR
The Rock dengan kualitas akting kelas Oscar tampil dalam film The Smashing Machine. Kisah nyata pegulat di awal-awal berdirinya UFC ini adalah film yang menguras emosi, memberi pemahaman dan menunjukkan betapa tangguhnya atlet UFC dan betapa berbahayanya ketergantungan obat. Hadir dari Studio A24, penghasil film-film berkelas festival, The Smashing Machine tayang di bioskop mulai 10 Oktober 2025.
My Rating: 3,5/5 stars




Komentar
Posting Komentar