BLACK PHONE 2 (2025) – TEROR PENUH DENDAM SI PENCULIK DAN PEMBUNUH ANAK

Nama sutradara Scott Derrickson di genre horor sesungguhnya sangatlah harum dibanding nama besarnya sebagai sutradara film superhero sukses Doctor Strange. Judul film seperti The Exorcism of Emily Rose, Sinister, Deliver Us From Evil dan The Black Phone adalah judul-judul horor besutan Derrickson yang banyak mendapat sambutan hangat para penggemar horor.

Akhirnya, setelah 4 tahun dirilislah Black Phone 2 yang menjadi lanjutan teror dari karakter The Grabber, penculik dan pembunuh anak bertopeng iblis yang mengerikan dan keji tanpa ampun. Masih dibintangi para aktor dari film pertama seperti Ethan Hawke, Mason Thames, Madeleine McGraw dan Jeremy Davies dengan tambahan amunisi aktor Demian Bichir dan Arianna Rivas.

SINOPSIS

Di usia 17 tahun, Finney (Mason Thames) masih berusaha menyembuhkan trauma mendalam akibat diculik, disekap dan melarikan diri dari sosok pembunuh berantai bertopeng The Grabber (Ethan Hawke). Sementara adiknya, Gwen (Madeleine McGraw) dengan bakat indigonya beberapa kali mengalami mimpi dan mengigau soal telpon dari masa lalu yang melibatkan Hope, ibu kandung mereka.

Berbagai petunjuk dari mimpi Gwen pun merujuk pada sebuah kamp perkemahan remaja tempat Hope bekerja sebagai konselor. Demi menghentikan teror mimpi yang makin membahayakan nyawa Gwen, kunjungan ke kamp perkemahan tersebut pun tidak dapat dihindari untuk menghadapi The Grabber dan membuka rahasia masa lalu yang kelam.

ULASAN

Datang dengan ekspektasi yang tepat membuat Black Phone 2 sangat bisa dinikmati sebagai sebuah horor thriller yang kelam, atmosferik dan mengerikan, lengkap dengan production design apik menggambarkan suasana periode 1980-an di lingkungan remaja kota Amerika.

Duet penulis naskah Scott Derrickson dan C. Robert Cargill yang juga menulis film pertama mengembangkan kisah dunia rekaan cerpen Joe Hill ini ke arah yang cukup unik, sebuah sekuel yang juga prekuel dengan benang merah masa lalu karakter Hope Adler, ibu kandung Finn dan Gwen, serta rahasia masa lalu karakter The Grabber.

Masih dengan gaya penyutradaraan yang sama dengan film-film sebelumnya, Derrickson mengolah visual film dengan membedakan alam nyata dengan mimpi yang dijalani Gwen. Saat mengigau, visual film seakan terdistorsi dengan gambar yang buram dan audio mono yang sangat membantu atmosfer film jadi lebih seram.

Dering telpon masih menjadi bagian dalam film, hanya saja kali ini tidak seseram yang pertama setelah mengetahui bahwa Hope yang menelpon. Sebagai gantinya kemunculan hantu-hantu saat sedang berbicara di telpon jadi pengganti yang cukup mengganggu mental penonton.

Atmosfer seram yang diciptakan dari distorsi audio visual dan adegan telpon belum seberapa dibanding teror The Grabber pada sosok Gwen di dalam igauan dan mimpinya. Korban-korban di masa lalu lengkap dengan bekas luka dan penyebab kematiannya juga menjadi elemen utama yang membuat film ini mendapat rating 17+.

Misteri yang dibangun dalam film soal kaitan Hope dengan kasus-kasus kematian di kamp perkemahan memang mudah ditebak, pelakunya pun sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Hal ini sedikit banyak membuat penonton tidak begitu penasaran pada kasusnya, ditambah lagi karakter remaja rebel dalam sosok Finn yang sudah dewasa dan pemberani membuat penonton juga tidak setakut pada film pertama. Rasa kasihan pada sosok Gwen jadi lebih dominan daripada rasa takut.

Dari sisi akting, sekali lagi Madeleine McGraw (Ant Man & The Wasp, Pacific Rim: Uprising) tampil menonjol seperti film pertama. Bahkan melampaui pesona Mason Thames (How To Train Your Dragon, Incoming) yang sudah beberapa kali menjadi aktor utama dibanding McGraw. Di luar keduanya tak ada yang menonjol lagi, bahkan Ethan Hawke (Before Trilogy, Training Day) tampil minim tanpa menunjukkan wajah aslinya. 

Memang sepertinya karakter Gwen lebih dikedepankan di film ini lewat berbagai mimpi dan teror yang ia lalui, sementara Finn seakan jadi karakter pendukung yang awalnya skeptis dan kemudian menyadari bahwa teror The Grabber pada dirinya dan adiknya belum usai sama sekali.

KESIMPULAN AKHIR  

Black Phone 2 menandai serbuan horor Hollywood di bulan Oktober memasuki masa halloween dengan karakter The Grabber yang tak hanya mengerikan, namun juga memberi kisah misterius yang penuh rahasia dan berbahaya. Sebuah horor yang tak hanya menyuguhkan kengerian, tapi juga sentuhan elemen keluarga yang menggugah hati, Black Phone 2 tayang mulai 15 Oktober di bioskop Indonesia.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

M3GAN 2.0 (2025) – NON-STOP ACTION GILA-GILAAN DENGAN ONE LINER KOCAK!

REVIEW THE BATTLE: ROAR TO VICTORY (2019) - FILM PERANG GERILYA KOREA VS JEPANG YANG EPIK DAN SERU

ROSARIO (2025) – TEROR KUTUKAN MENGERIKAN DI APARTEMEN