BEWARE BOIUNA (2026) – TEROR ULAR LEBIH BESAR DARI ANACONDA!
Ditangani sutradara Mike P. Nelson, Beware Boiuna memajang duet actor yang lama tidak tampil di layar lebar, Jessica Rothe (Happy Death Day, La La Land) dan Logan Marshall-Green (Upgrade, Devil) didampingi beberapa aktor seperti Kiana Madeira, Jackson Bews, Will Close, Juan Pablo Shuk dan Sergio Herrera.
SHE'S NOT A MYTH, SHE'S A LEGEND
Perjalanan sekumpulan tenaga kesehatan dalam misi malayani dan mengobati masyarakat tepi sungai Amazon di Wilayah Kolombia berubah jadi mimpi buruk manakala dokter Allison (Jessica Rothe) dan Lena (Kiana Madeira) yang punya misi mencari kakaknya yang hilang, harus berurusan dengan para penambang emas ilegal dan pembalak hutan yang dipimpin Brennan (Logan Marshall Green).
Perburuan para tenaga kesehatan pun dimulai saat adik Brennan menjadi korban perselisihan. Niat Brennan membalas dendam ternyata tak direstui alam yang mengutus Boiuna, seekor ular legenda yang menjadi penentu siapa yang hidup dan mati di sepanjang Sungai Amazon. Satu per satu kematian terjadi tanpa pandang bulu siapa korbannya.
IT'S A WORM, IT'S A LIZARD, NO! IT'S A SNAKE!
Berangkat dengan ekspektasi menonton film teror ular yang seperti biasanya ada di film-film B-movies pada umumnya, kami dikejutkan dengan betapa menegangkan dan mengejutkannya film Beware Boiúna ini. Formula final girl memang digunakan di film ini dengan baik, hanya saja tidak akan sesuai dengan ekspektasi Anda. Sutradara dan penulis naskah film ini sepertinya ingin membolak-balikan ekspektasi Anda soal siapa yang akan selamat di film ini.
Membuka film dengan perkenalan para tenaga kesehatan dengan kru kapal yang terdiri dari lima orang, Beware Boiúna menancapkan terornya di babak kedua saat perselisihan tenaga kesehatan dan para penambang ilegal meruncing. Sang ular raksasa digambarkan tidak menyukai keributan yang terjadi antara para 'penjajah' tanah Amazon! Kemunculan sang Boiuna pun tak bisa dihindari lagi, korban berjatuhan dan tidak dalam situasi yang elok.
Kematian demi kematian yang terjadi digarap dengan baik, penuh kejutan dan terlihat kejam tanpa terlalu banyak menampilkan darah dan potongan tubuh. Kerjasama antara visual dan sound effects cukup padu demi memberikan efek teror yang efektif. Satu hal yang cukup krusial dan tak disadari sejak awal adalah tone a la negeri tropis dengan treatment gambar layaknya film berlatar 1970-an tak disangka menambah kesan analog film ini. Tentu saja ini hanya sekadar treatment gambar demi menambah magisnya film, tapi bagi kami adalah sebuah keputusan kreatif yang cukup cerdas.
Naskah yang ditulis oleh Tony Giglio, Alan B. McElroy dan Mike P. Nelson memang bukanlah sebuah naskah yang luar biasa bagus, apalagi naskahnya kurang bisa membangun mitos Boiuna lewat adegan-adegan flashback yang lebih menggambarkan kekejian sang ular besar, narasi yang diciptakan pun terbilang minim demi membangun image betapa mengerikannya sang Boiuna. Praktis hanya karakter Lena saja yang menjadi pencerita di film ini.
Naskah yang cenderung lempeng tanpa kejutan berarti ini unggul dalam hal mengeskalasikan adegan teror sang Boiuna. Penonton dibawa dari sungai di malam hari, menuju ke daratan hutan tropis minim cahaya yang menyeramkan, sampai akhirnya pertarungan di area pembalakan dengan alat berat yang terlibat melawan sang ular. Sebuah set up klimaks luar biasa yang diakhiri dengan pamer ledakan dan lilitan mematikan.
Secara teknis selain visual dan sound effects yang cukup memadai dengan bujet film minim, film ini punya keunggulan di latar cerita yang kaya dengan lokasi eksotis, sungai amazon yang besar dan panjang berwarna kecoklatan, hutan tropis lebat dengan pepohonan menutupi cahaya matahari, serta penggunaan kapal-kapal khas ekspedisi amazon yang klasik membuat latar cerita makin otentik.
Kualitas akting juga layak diacungi jempol. Terutama Logan Marshal-Green yang mampu membagi karakternya yang awalnya tangguh bertransisi jadi pengecut berhadapan dengan sang Boiuna. Jessica Rothe juga tampil maksimal dengan karakternya yang dua kali menghadapi kejadian traumatis, sementara Kiana Madeira jadi sosok cewek badass stereotipikal dalam pandangan sutradara laki-laki.
YAY OR NAY?
Buat pecinta film creature feature dengan treatment B-Movies yang menjual ketegangan dari teror ular besar dengan kejutan tak terduga soal siapa yang selamat, film Beware Boiúna akan jadi pilihan yang tepat untuk kamu tonton di bioskop. Siap menjerit, tercekat dan terbengang-bengong melihat siapa sebenarnya tokoh utama di film ini.
Beware Boiúna tayang mulai Jumat, 16 Oktober 2026 di bioskop Indonesia.





Komentar
Posting Komentar