RED SONJA (2025) – KISAH PEREMPUAN TANGGUH NAN HEROIK DI FANTASY SWORD & SORCERY

Tepat 40 tahun silam kisah heroik ksatria perempuan berambut merah, Red Sonja, dibuat dan menampilkan sepasang sosok bintang action Arnold Schwarzenegger dan Brigitte Nielsen sebagai Conan The Barbarian dan Red Sonja yang melegenda dan ikonik. Kini mencoba membangkitkan kembali karakternya dengan pendekatan gaya action modern disisipi elemen women empowerment dibuat versi barunya dengan judul sama, Red Sonja.

Berfokus hanya pada karakter Sonja yang diperankan dengan garang oleh Matilda Lutz, Red Sonja karya sutradara M.J. Bassett (Deathwatch, Solomon Kane) juga dibintangi Robert Sheehan, Wallis Day, Michael Bisping, Luca Pasquilano dan Rhona Mitra. Red Sonja tayang segera di bioskop Indonesia.

SINOPSIS

Red Sonja (Matilda Lutz) tinggal sendiri didalam hutan ditemani kuda kesayangannya. Ia berinteraksi dengan alam dan dewa hutan sembari mencari sisa orang-orang dari sukunya setelah pembantaian beberapa tahun silam. Hingga beberapa penjahat kecil memasuki hutannya dan mempertemukan dia dengan Draygan (Robert Sheehan) seorang Kaisar dan ilmuwan jahat dan arogan dan terobsesi untuk menguasai dunia lewat sebuah buku keramat milik leluhur.

ULASAN

Secara cerita Red Sonja memang cenderung standar tanpa ada keistimewaan yang berarti.Tidak ada pembaruan untuk film dengan genre action adventure dengan sentuhan fantasy yang berkutat di seputar dendam masa lalu dan perebutan kekuasaan. Namun, penekanan pada action yang ditampilkan cukup epik dan memberikan pengalaman seru, dengan beberapa adegan duel pedang, panah dan bertarung yang atraktif dengan sentuhan brutal berdarah-darah.

Pembaruan di versi remake selain mengeliminasi Conan demi menghilangkan ketergantungan pada karakter hero laki-laki dan yang paling nyata adalah penggunaan CGI yang membuat visual dunia pertarungan dan makhluk-makhluk fantasinya terlihat nyata dan blending dengan karakter manusia. Walau dengan bujet minim, tapi kualitas CGI-nya tidak mengganggu kisah perjuangan Sonja dan keseruan berbagai sekuens pertarungan yang tersaji.

Satu hal dari Red Sonja yang patut dipuji karena kemampuannya menonjolkan karakter perempuan tangguh ke dalam konflik di semestanya. Utamanya adalah usaha Sonja menemukan klannya dan journey Annisia memenuhi ambisinya menjadi seorang ratu. Diangkat dari karakter rekaan Robert E. Howard yang kemudian diadaptasi dalam bentuk komik oleh Roy Thomas, pekerjaan penulis naskah Tasha Huo (series Tomb Raider: The Legend of Lara Croft, series The Witcher: Blood Origin) terbilang cukup berat membuat Red Sonja berlatar dunia magis dan peperangan ala medieval dengan perspektif modern. Pemilihan penulis bergender perempuan ini jadi sebuah keputusan bijak yang membuat Red Sonja lebih terasa sisi perspektif perjuangan perempuannya.

Matilda Lutz yang angkat nama dengan film thriller action Revenge kembali memerankan karakter wanita tangguh yang tak segan-segan bertarung demi mempertahankan nyawanya. Totalitas demi memerankan Sonja dijalani Lutz dengan memperkuat otot dan kemampuan tarungnya. Meski belum tampak maksimal untuk menyamai versi dahulu milik Nielsen yang ikonik, usaha Lutz masih layak diberikan apresiasi, terutama kemampuannya dalam memanah dengan cepat. 

Sementara Robert Sheehan (Mortal Engines, The Mortal Instruments: City of Bones) tampil fasih dalam peran antagonis tanpa kesulitan berarti. Di luar kedua pemeran utama, Wallis Day (Sheroes, Infinite) sebagai Annisia jadi karakter menarik yang kompleks karena ambisi yang mempengaruhi rasa cintanya pada Draygan dan kebenciannya pada musuh-musuh Draygan. 

Sutradara M.J. Bassett yang berpengalaman menangani film di universe yang mirip dalam judul Solomon Kane memang memiliki kemampuan khusus menyulap dunia sihir dan pedang dengan bujet minimal sehingga menjadi sebuah arena bermain untuk karakter Red Sonja dan dunianya. Memang bujet film yang cenderung minim untuk film bergenre sejenis terlihat jelas di dalam film. Adegan tarungnya memang seru, tapi terasa kurang megah di beberapa bagian yang diakali dengan menyisipkan visualisasi dunia sword & sorcery dengan hutan lebat, bukit-bukit hijau seperti layaknya di negeri fantasi. Bujet terbesar nampaknya dikeluarkan pada sektor stuntman dibanding production design.

KESIMPULAN AKHIR

Sebuah usaha untuk memperkenalkan kembali film berlatar dunia sihir dan pedang seperti yang pernah ramai di tahun 1980-an coba dihadirkan lewat remake dari film Red Sonja. Dipimpin Matilda Lutz yang fenomenal di film Revenge, Red Sonja jadi pembuktian baginya untuk mengundang decak kagum pada karakternya yang ikonik. Sebuah film action fantasy yang menghibur dengan berbagai pertarungan brutal di tengah intrik perebutan kekuasaan tanpa perlu banyak berpikir.

Red Sonja tayang segera di bioskop Indonesia.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

M3GAN 2.0 (2025) – NON-STOP ACTION GILA-GILAAN DENGAN ONE LINER KOCAK!

REVIEW THE BATTLE: ROAR TO VICTORY (2019) - FILM PERANG GERILYA KOREA VS JEPANG YANG EPIK DAN SERU

ROSARIO (2025) – TEROR KUTUKAN MENGERIKAN DI APARTEMEN