DRACULA: A LOVE TALE (2025) – SISI LAIN DRAKULA DENGAN KISAH ROMANTISNYA
Menyebut nama Drakula rasa-rasanya sudah tidak perlu diragukan ketenarannya di dalam budaya populer dunia, khususnya di semesta horor sebagai makhluk kejam penghisap darah. Namun kisah bangsawan fiksi rekaan novelis, Bram Stoker ini punya sisi lain yang sangat berbeda drastis dengan kekejamannya, yakni kehidupan asmaranya yang romantis.
Setelah beberapa kali dibuat
dalam berbagai versi film, sutradara kenamaan Prancis, Luc Besson mencoba
menggali kisah asmara sang Drakula dalam film terbarunya Dracula: A Love
Tale yang kali ini dibintangi oleh Caleb Landry Jones, Christoph
Waltz, Zoe Bleu dan Matilda de Angelis. Dracula: A Love Tale
akan tayang 29 Agustus di bioskop Indonesia.
SINOPSIS
Setelah kematian istri tercintanya, Vlad (Caleb Landry Jones), seorang pangeran yang hidup di abad 15 meninggalkan Tuhan dan mengubah dirinya menjadi seorang vampire yang abadi dengan meminum darah manusia. Empat abad kemudian, di abad 19, di London, Vlad melihat seorang wanita yang mirip dengan istrinya. Kembali jatuh cinta, ia pun memutuskan untuk mengejar cinta wanita tersebut mati-matian.
ULASAN
Diadaptasi dari novel populer Dracula
karya Bram Stoker, film Dracula: A Love Tale membawa sebuah kisah
lain dari Dracula yang biasa kita kenal. Meski masih sama-sama tentang sosok
mahluk penghisap darah, akan tetapi pada
versi Luc Besson ini versi kebalikan dari versi yang umum. Dimana film Dracula yang
lalu-lalu menekankan pada elemen horor yang menakutkan. Sementara di film Dracula:
A Love Tale lebih menekankan pada kisah romansa yang sangat
memilukan tentang seorang pria yang begitu mencintai seorang wanita hingga ia
rela mengorbankan jiwanya dan mengutuk dirinya sendiri demi cinta.
Dracula: A Love Tale
karya Luc Besson (Leon The Professional, The Fifth Element)
memang benar-benar penuh cinta, walau tetap menekankan karakter Dracula yang cenderung
psikopat. Diringi musik latar yang megah dan unik khas komposer Danny Elfman (Batman, The Nightmare Before Christmas),
kostum dan set periodik yang indah, sinematografi yang menakjubkan, serta pemilihan
pemain yang sempurna, rasa-rasanya tidak ada yang perlu dikeluhkan dari film ini secara teknis.
Naskah yang digodok oleh Luc Besson sendiri sangat menggambarkan esensi utama yang diniatkan dalam genrenya, roman fantasi dengan sentuhan horor. Naskahnya mampu menyentuh hati, meskipun mengetahui karakter Dracula yang menakutkan, tetapi rasa pedih kehilangan, kesepian, dan rasa cintanya yang besar mampu menyentuh empati kami. Sosok Vlad alias Dracula tak lagi menakutkan, tetapi melankolis dari awal hingga akhir.
Keberhasilan Besson dalam menulis
naskah ini layak diacungi jempol, seakan mengingatkan pada film yang mengangkat
namanya, Leon: The Professional, dimana Besson mampu membuat penonton
berempati pada sosok pembunuh bayaran bernama Leon. Pujian pun patut disematkan
pada Caleb Landry Jones (X-Men First Class, Three Billboards Outside
Ebbing, Missouri), aktor watak yang selalu memberikan nyawa kuat pada
karakter-karakter yang ia perankan, termasuk di dalam film ini. Sementara Christoph
Waltz (Inglourious Basterds, Django Unchained) tak perlu diragukan
lagi range aktingnya.
Menarik saat melihat kipah Zoe
Bleu (Signs of Love, Gonzo Girl), aktris pendatang baru yang memerankan dua karakter wanita, Elisabeta dan
Mina. Wajah cantik dan sendunya mampu menghipnotis tak hanya Dracula, tetapi juga
kami sebagai penonton. Walau memang masih terlihat hijau secara akting, tapi presence-nya
di tiap adegan mampu membuat penonton percaya cinta Dracula benar-benar tulus
padanya.
KESIMPULAN AKHIR
Overall, Dracula: A Love
Tale adalah film yang memikat terutama dengan kisah tragic romance yang
mendayu-dayu dengan sentuhan estetika gothic yang sempurna. Atmosfer dan
sentuhan roman fantasinya yang unik sukses memberi kesan dengan desain produksi
yang mengagumkan. Sebuah sajian roman mengesankan di tengah langkanya film
roman belakangan ini.
Dracula: A Love Tale tayang di bioskop mulai 29 Agustus 2025.



Komentar
Posting Komentar