WE BURY THE DEAD (2026) – FILM ZOMBIE DENGAN TONE DEPRESIF MENCEKAM
Melihat pakem-pakem film zombie sejak pertama kali dipopulerkan lewat film Night of Living Dead oleh zombie master George A. Romero, tidak banyak yang berani mengeksplor genrenya jauh dari genre horor dan komedi. Tercatat kita sudah disuguhi zombie komedi dalam Zombieland atau Shaun of The Dead atau zombie romance dalam Warm Bodies, dan kini film We Bury The Dead menawarkan satu jenis horor zombie baru dengan citarasa film independen dan sentuhan konflik drama rumah tangga.
Disutradarai dan ditulis Zak Hilditch
dan dibintangi Daisy Ridley, Brenton Thwaites dan Mark
Coles Smith, We Bury The Dead tayang mulai hari ini, 9 Januari di
bioskop.
SINOPSIS
Rasa kehilangan tak bisa lepas
dari Ava (Daisy Ridley) yang memutuskan untuk mencari tahu keadaan sang
suami dengan menjadi sukarelawan pengidentifikasi jenazah pada bencana percobaan
senjata pemusnah massal yang melanda Pulau Tasmania.
Dibantu rekan volunteer Clay (Brenton
Thwaites) yang tak kalah nekatnya, Ava mencoba menembus berbagai halangan
dalam bentuk mayat hidup yang mengerikan dan seorang tentara depresif dengan
motif misterius.
ULASAN
Melihat latar belakang rumah
produksi dan bujet produksinya, film We Bury The Dead sebenarnya
dapat dikategorikan film independen yang memiliki skala besar dari segi
penceritaan. Terjadinya tragedi bencana ujicoba senjata pemusnah massal oleh
Amerika Serikat yang membunuh hampir seluruh penduduk di Pulau Tasmania
menjadikan film zombie ini punya sedikit elemen film bencana di dalamnya.
Naskah yang ditulis sendiri oleh
sutradara Zak Hilditch (1922, These Final Hours) membuka kisah
sebab akibat dari tragedi bencana yang secara spesifik mempengaruhi kehidupan
rumah tangga karakter Ava. Rasa kehilangan, rasa bersalah dan sesal dihadapi
oleh Ava di sepanjang durasi dengan adegan flashback yang cukup sering muncul
menggambarkan hubungan romantis Ava dengan suaminya Mitch.
Penonton dibuat iba pada karakter
Ava yang digambarkan memiliki pernikahan indah dan menunjukkan dirinya setia
pada suaminya yang pergi bertugas ke Tasmania di saat hubungan keduanya sedang
menghadapi masalah. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Ava nekat repot-repot
mencari Mitch yang harapan hidupnya tipis? Semua terjawab dalam konklusi yang
cukup mengejutkan.
We Bury The Dead memang tidak menceritakan detail bagaimana dan kenapa sesosok mayat yang sudah dinyatakan meninggal bisa hidup lagi dan menjadi zombie. Tetapi film ini seakan memberikan gambaran bahwa manusia dan zombie nyaris tak ada bedanya. Ada yang jahat, ada pula yang baik.
Dari sisi teknis, Hilditch sukses
menggambarkan Tasmania versi distopia yang suram, tidak sehat, penuh asap dan
dijaga ketat oleh militar. Pulau besar yang dilanda bencana pun tergambarkan
dengan baik oleh tim visual efek dan kerjasamanya dengan sinematografer. Satu
tim lain yang layak dipuji adalah keberhasilan tim make up dan spesial efek yang
sukses menggambarkan para zombie yang beragam dan nyaris semuanya terlihat bengis
di layar.
Dari sisi akting Daisy Ridley (Last Star Wars Trilogi, Chaos Walking) memimpin kendali dengan aktingnya yang memiliki jangkauan range akting luas. Traumatis, depresif tapi juga tangguh dan pemberani. Sementara Brenton Thwaites (Oculus, The Giver) juga mengimbangi dengan karakter slenge’an dari karakter Clay. Sosok Riley milik Mark Coles Smith, tentara misterius yang muncul di tengah film juga digambarkan dengan baik lewat karakter misterius yang nyaris tak pernah senyum. Kemunculan Riley mengubah tone film dengan rahasia di dalam isi kepalanya.
KESIMPULAN AKHIR
We Bury The Dead memberi
tontonan film horor zombie yang unik dan berbeda. Lupakan segala yang kalian
ketahui tentang film-film zombie konvensional dan mencoba jenis baru yang tak
hanya mengerikan dan kelam, tapi juga depresif dengan drama rumah tangga penuh
kejutan.
We Bury The Dead tayang
hari ini, 9 Januari di bioskop.





Komentar
Posting Komentar