THE LONG WALK (2025) - HOROR DISTOPIA DISTURBING PENUH MAKNA
Saat sebuah produksi film dari studio besar membawa-bawa buku karya Stephen King sebagai sumber adaptasi, maka sudah bisa dipastikan film tersebut mempunyai value lebih untuk genre drama dan horor. Nama besar King sebagai penulis novel maupun cerpen sudah tidak perlu diragukan lagi dan kali ini kita disajikan The Long Walk, sebuah film horor adaptasi dari novel pertama yang ditulis Stephen King.
Disutradarai Francis Lawrence (The Hunger Games: Catching Fire, Constantine) dan dibintangi Cooper Hoffman, David Jonsson, Charlie Plummer, Ben Wang, Mark Hamill dan Judy Greer, The Long Walk membawa kisah horor distopia dengan sentuhan persahabatan, survival dengan bumbu dialog tajam dan filosofis tentang kehidupan yang hangat dan mencerahkan. The Long Walk sedang tayang di bioskop Indonesia.
SINOPSIS
Alkisah usai perang dunia, Amerika dilanda krisis ekonomi dan sosial yang mengakibatkan kemiskinan dan kelaparan melanda seluruh negeri. Sebuah perlombaan jalan kaki jauh bertajuk "The Long Walk" jadi sebuah simbol untuk memotivasi para pemuda Amerika. Terdiri dari 50 peserta, akan tersisa satu pemenang yang akan mendapat kekayaan tak ternilai dengan sebuah permintaan yang pasti akan dikabulkan. Sisa 49 orang lain dieksekusi mati di tengah lomba oleh militer pimpinan Sang Mayor (Mark Hamill)
Ray (Cooper Hoffman) meninggalkan sang Ibu Ginnie (Judy Greer) untuk mengikuti lomba demi ambisi pribadi, bukan kekayaan dan bukan kejayaan yang ia cari. Namun, di perjalanan ia bersahabat dengan McVries (David Jonsson), seorang pemuda kulit hitam dengan kehidupan jalanan yang keras. Bersama para peserta lain mereka membangun ikatan dan saling dukung meskipun tahu hanya satu dari mereka yang akan selamat.
ULASAN
Berbekal ulasan baik oleh para kritik di web Rottentomatoes, kami berangkat ke press screening dengan ekspektasi cukup tinggi mengingat nama besar Stephen King dan Francis Lawrence di balik film The Long Walk. Hasilnya tak mengecewakan, film ini menjadi salah satu film adaptasi King yang sangat spesial. Keberhasilan Lawrence dan penulis naskah JT Mollner memadukan horor dengan drama persahabatan plus sentuhan coming of age-nya membuat film ini serasa perpaduan dari karya-karya King seperti Shawshank Redemption, Stand by Me dengan bumbu horor opresi militer yang sangat relevan di masa kini.
Suramnya kisah dan latar belakang distopia diwarnai dengan kehangatan kisah persahabatan yang dijalin secara tulus dalam durasi 108 menit film. Penonton disuguhkan dengan sosok sahabat sejati dalam diri Ray dan McVries disertai rekan-rekan 'Musketeers' mereka Art dan Olsson. Hebatnya lagi menjelang klimaks, sahabat mereka pun makin bertambah dengan sosok pesaing yang berubah haluan. Dinamika psikologis karakter divisualisasikan dengan baik dalam film ini.
Horor ala Stephen King yang biasanya erat dengan supernatural dan adegan suspense thriller kini dititikberatkan pada atmosfer kelam, suram dan mencekam oleh karena tekanan militer yang menguasai negara. Perlombaan jalan kaki yang didampingi oleh militer juga jadi makin menarik saat dianalogikan sebuah negara berkembang yang dikuasai militer. Penulis naskah JT Mollner yang juga pernah menulis dan menyutradarai film thriller unik Strange Darling sangat lihai memadukan ragam genre dalam film ini, tapi sisi drama dan dialog tajam yang terkesan melantur namun memiliki makna dalam ini jadi senjata utama dalam film.
Namun, sebagai sebuah film komersil, sisi gore yang mendukung intensitas film jadi jualan utama dengan berbagai adegan kematian yang cukup graphic ditampilkan di layar. Wajah hancur ditembak, kaki terlindas tank, kepala pecah oleh peluru kaliber besar, tubuh dibombardir peluru, membuat The Long Walk disematkan rating 17+ untuk penayangannya di Indonesia. Walau begitu adegan paling fenomenal bukanlah salah satu dari adegan brutal itu, melainkan adegan diare di tengah jalan yang ditampilkan tanpa sensor. Dijamin akan mengurangi nafsu makan Anda.
Francis Lawrence yang sudah akrab dengan cerita bertema distopia di film-film seri Hunger Gamesnya menggarap The Long Walk dengan gaya yang berbeda. Memiliki tone gelap dengan aura coklat yang kering dan tandus di sebagian besar durasi membuat perjalanan sejauh nyaris 600 km tidak hanya membuat tak nyaman pesertanya, tapi juga penontonnya. Tambahan dialog latar belakang karakter dan curhatan mereka membuat kegelisahan dan rasa lelah para karakternya dirasakan pula oleh kami sebagai penonton. Sebuah keberhasilan yang layak diacungi jempol bagi sutradara dan para kru yang berhasil menciptakan dunia distopia ini.
Dari sisi akting, duet Cooper Hoffman (Licorice Pizza, Saturday Night) dan David Jonsson (Alien Romulus, Murder is Easy) jadi penampil yang menonjol. Hoffman sang putra dari mendiang aktor peraih oscar Phillip Seymour-Hoffman tampil prima sebagai seorang pemuda ramah yang ternyata memiliki misi dendam, sementara Jonsson dengan wajah penuh senyum jadi sosok bijak dengan street smart dan kesetiakawanan tinggi.
Sosok menonjol lain adalah Ben Wang (Karate Kid: Legends), sang pemuda cerewet namun pintar yang jauh berbeda dari peran sebelumnya di Karakte Kid, serta Charlie Plummer (Spontaneus, Looking for Alaska) yang tampil brilian menjadi karakter pemuda brengsek yang antisosial dan problematik.
YES OR NO?
BIG YES. Kalian harus menonton The Long Walk di layar lebar. Nikmati sajian bersinema yang unik dengan sebuah horor suspense dengan campuran genre gore, drama serta survival yang tak hanya mencekam tapi juga memberikan gambaran kisah persahabatan yang tulus dan perjuangan serta tekad kuat para karakternya. Menegangkan, seru dan penuh cairan tubuh, The Long Walk adalah salah satu karya Stephen King terbaik yang pernah diadaptasi ke dalam medium film.
The Long Walk sedang tayang di bioskop Indonesia

.jpg)


Komentar
Posting Komentar