BY ANY MEANS (2026) – SAAT HUKUM TAK BEKERJA, HITMAN TURUN TANGAN
Masa segregasi Amerika Serikat di tahun 1960-an antara warga kulit putih dengan ‘kulit berwarna’ jadi sebuah sejarah kelam yang kerap ‘kambuh’ belakangan ini. Hollywood sebagai salah satu medium kebebasan berpendapat dan menyampaikan keberpihakan tak pernah ragu untuk memfilmkan film-film berlatar diskriminasi yang dialami warga kulit hitam di masa lalu, dan kali ini sebuah film mencoba mengangkatnya dari sebuah genre crime thriller berjudul By Any Means.
Diangkat dari sebuah kisah yang dianggap
‘mitos’ penegakan hukum dari lembaga FBI yang menjadi rahasia umum yang belum
terbukti kebenarannya, film karya Elegance Bratton ini dibintangi Yahya
Abdul-Mateen II, Mark Wahlberg, Ethan Embry, David Strathairn, Giancarlo
Esposito dan Josh Lucas.
SINOPSIS
Kepindahan agen kulit hitam Wayne
Strider (Yahya Abdul-Mateen II) dari Chicago ke Mississippi ternyata
tidak membuatnya lebih terpandang dan berwenang. Warga kulit putih tetap
meremehkan dan menganggapnya hina. Wayne menganggap itu hal biasa, sampai sahabatnya
Vernon (Giancarlo Esposito) politisi kulit hitam berpengaruh, menjadi
korban dan Wayne tak diizinkan untuk melakukan penyelidikan. Para pembunuh pun bebas
berkeliaran dan merasa tak tersentuh hukum.
FBI pusat pun mengambil tindakan.
Diam-diam, tanpa surat penugasan resmi FBI mengutus Greg Scarpa (Mark
Wahlberg), seorang hitman mafia yang pernah berhasil mereka tugaskan di
sebuah kasus pembunuhan aktivis kulit hitam 2 tahun sebelumnya. Bersama Wayne,
Greg mulai melakukan penyelidikan. Penegak hukum resmi dan pembunuh bayaran yang
diberi izin menginterogasi dan membunuh saling bahu membahu untuk menyelesaikan
kasus pelik berkaitan dengan ras ini.
ULASAN
Miris, pilu dan menyedihkan.
Kondisi Amerika Serikat di tahun 1960-an memang sangat kacau. Sutradara Elegance
Bratton tak ragu menggambarkan periode kelam segregasi ras di AS
tersebut dengan sangat kelam. Sejak menit awal penonton sudah disuguhi kondisi tak
adil di mana warga kulit hitam harus membayar pajak demi memiliki hak suara
dalam pemilu. Sungguh miris kondisi saat itu dan penonton diajak merasakannya
dari sudut pandang Wayne, seorang agen FBI bagian dokumen dan filing.
Sebagai seorang agen federal
kulit hitam yang terhitung langka, Wayne memiliki kebanggaan dengan jabatannya.
Tapi ia merasa gagal karena sama sekali tak dianggap oleh warga kulit putih di
Chicago dan di Mississippi, kota kelahirannya. Hanya di mata keluarga dan sang
istri ia bisa bertahan menghadapi pertentangan di dalam hatinya.
Ketika ditawarkan oleh atasannya
untuk ‘mendampingi’ Greg Scarpa, Wayne tak menyangka bahwa Greg diberi kebebasan
membunuh, bahkan membunuh seorang polisi. Wayne tak bisa menghadapi
pertentangan itu. Ia adalah penegak hukum. Namun bagi atasannya dan tentu saja
Greg, semua tindakan dihalalkan demi menyelesaikan kasus tersebut. Di situlah makna
judul By Any Means bekerja di film ini.
Lewat sudut pandang Wayne kita melihat bahwa persoalan pelik tidak selalu diselesaikan dengan hitam atau putih, selalu ada area abu-abu yang kadang harus dilakukan, dan tak jarang jadi satu-satunya langkah yang harus dipilih. Perjalanan karakter Wayne pun jadi penting karena mengajak penonton juga untuk memilih seperti Wayne di akhir film atau memilih jalan lain. Naskah yang ditulis Sascha Penn (Creed II, 1992) dengan lihai mengarahkan journey Wayne selaras dengan penonton, walaupun dari sisi plotting cerita cenderung formulaik.
Karakter Greg yang digambarkan
sebagai sosok urakan, brengsek khas mafioso dimainkan dengan sempurna oleh Mark
Wahlberg (Boogie Nights, The Departed) dengan gaya sengak dan logat
italia-new york yang khas. Tambahan prostetik hidung menambah penampilannya
lebih mirip dengan sosok Scarpa yang asli.
Sementara Yahya Abdul-Mateen
II (Aquaman, series Wonder Man) tak kalah baiknya. Memerankan tokoh
fiktif yang tidak dibuka karakter aslinya, Yahya mampu menyelami karakter agen
FBI kulit hitam yang kerap berkemelut di persimpangan jalan. Setiap langkah
yang ia ambil selalu memiliki resiko, sampai akhirnya ia memilih jalan yang ia
anggap benar.
Dukungan dari aktor-aktor senior macam Giancarlo Esposito, David Strathairn dan Josh Lucas tentu saja menambah warna, tapi sosok Ethan Embry (That Thing You Do) jadi yang paling menonjol meski muncul di durasi yang singkat.
Satu yang menjadi catatan kami
adalah sosok sutradara Elegance Bratton (My House, Pier Kids)
yang dengan cekatan dan skillnya menggambarkan situasi periode tahun 1966
dengan baik meski dengan biaya yang tidak besar. Film ini memang tidak banyak
memakai adegan established kota besar demi menggambarkan periodik waktu, jadi
walau rasio gambarnya normal wide, tapi ketiadaan established shots
cukup menambah situasi genting dan pelik saat itu.
Betapa mencekamnya, gerahnya,
serta betapa warga kulit hitam terkungkung situasi politik dan segregasi ras
yang mencekik. Sebuah mise en scene yang tertangkap dan tersampaikan
dengan baik yang bersanding dengan adegan aksi tembak-tembakan, kejar-kejaran
mobil dan penyiksaan brutal saat interogasi yang membuat film ini mendapat
rating dewasa.
KESIMPULAN AKHIR
By Any Means menandai
kembalinya Mark Wahlberg dalam film yang menampilkannya sebagai seorang hitman
mafia tangguh yang bekerjasama dengan FBI untuk menyelesaikan kasus pembunuhan berlatar
rasial di AS tahun 1966. Buat pecinta thriller kriminal By Any Means
adalah tontonan yang cocok, apalagi diangkat dari mitos penegakan hukum AS yang
sampai saat ini belum diketahui kebenarannya.
By Any Means tayang
mulai Rabu 2 September di bioskop Indonesia.



Komentar
Posting Komentar