KUNG FU SOCCER (2026) – KOCAK, LEBAY, ATRAKTIF DAN NOSTALGIC

Tujuh tahun setelah terakhir menyutradarai The New King Of Comedy, legenda komedi industri film Tiongkok, Stephen Chow kembali dengan film anyarnya, sebuah spin-off langsung dari film ikonik miliknya, Shaolin Soccer (2001), Bertajuk Kung Fu Soccer, yang kali ini menghadirkan tim sepak bola wanita dengan kemampuan spesial beladiri Kung Fu dan membawa gaya komedi yang mengingatkan pada film-film Chow di masa lalu.

Tak hanya soal sepakbola (yang divisualisasikan secara berlebihan), Kung Fu Soccer, juga berusaha mengangkat dinamika solidaritas perempuan, sekaligus bentuk perlawanan terhadap diskriminasi usia serta stereotip, diperkaya juga dengan kisah proses penerimaan diri dan perdamaian batin. Sebuah pesan baik yang dibawa dari sebuah film komedi action ringan yang dibintangi Zhang Xiaofei, Dilraba Dilmurat dan Zhang Yixing.

Kung Fu Soccer tayang di bioskop Indonesia mulai Rabu 12 Agustus 2026.

SINOPSIS

Alkisah ada sebuah tim sepak bola wanita bernama E Mei Fc, tim underdog yang ambisius yang mengikuti sebuah kejuaraan sepakbola wanita namun cenderung konyol, tak bisa bermain sepak bola dan hanya bisa kung fu, sehingga kerap diremehkan oleh lawan-lawannya.

Dipimpin oleh Shuang, sang kapten yang ambisius, namun gampang tersulut emosi dan tak segan membuat onar. Bersama Jade, sahabat kentalnya sedari kecil yang sedang tidak dalam keadaan baik secara mental dan terlibat konflik batin, membuat keduanya sering bertentangan. Dapatkah mereka kompak dan memenangkan kompetisi sepak bola tersebut atau malah terjerumus masalah mereka masing-masing?

ULASAN

Didominasi komedi absurd dan slapstick khas Stephen Chow, Kung Fu Soccer mampu memberikan hiburan yang memuaskan meski pada bagian penceritaannya cenderung kurang kuat. Sebagai contoh, pengembangan karakter yang minim, terutama pada karakter-karakter pendamping yang sebenarnya bisa diberikan latar belakang yang lebih kuat dan menarik. 

Hal yang patut diperhatikan juga efek visual film ini yang terlihat belum begitu mulus, terutama set pada stadion dan lapangan yang hampir seluruhnya menggunakan CGI. Budget minim sepertinya menjadi masalah utama film ini. Kami teringat film Shaolin Soccer yang juga memiliki efek CGI terbatas, namun konteks komedinya membuat kedua film ini dapat dimaafkan.

Kung Fu Soccer benar-benar membawa nostalgia pada film Shaolin Soccer. Beberapa elemen klasik ala Stephen Chow, tanpa disadari memberikan tribute ataupun penghormatan untuk semua hal yang personal dengan kehidupan peribadinya. Termasuk filosofi orang yang ia selalu kagumi, Bruce Lee, "Jadilah Air, Sahabatku." dan masih bnyak lainnya.

Tiga sutradara yang menangani Kung Fu Soccer, yakni Stephen Chow, Lam Tze-Chung dan Lu Zhengyu, sudah berusaha sebaik mungkin membangun dunia sepakbola wanita yang tangguh, menampilkan negara-negara lain dengan kritikan stereotip yang cukup mengena dilengkapi dengan koreografi tarung yang disisipkan dalam teknik sepakbola, meskipun mengada-ngada dan lebih dekat pada film anime Tsubasa daripada pertandingan sepakbola sungguhan, namun jadi tontonan yang menyenangkan dan seru. Apalagi formula from zero to hero-nya digunakan dengan baik.

KESIMPULAN AKHIR

Kung Fu Soccer adalah film untuk penggemar komedi, apalagi gaya komedi Stephen Chow yang khas. Begitu juga untuk pengagum Shaolin Soccer. Jangan mengharap cerita yang masuk akal dan berkelas festival, nikmati saja kekocakan, kelebayan dan absurditas yang dimaksimalkan dalam film ini, sambil bernostalgia pada komedi ala Stephen Chow.

Kung Fu Soccer akan mulai tayang dibioskop Indonesia mulai 12 Agustus 2026.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

FIVE NIGHTS AT FREDDY’S 2 (2025) – SEKUEL YANG DOBEL SERU DAN NGAGETINNYA

GREENLAND 2: MIGRATION (2025) – AKSI HEROIK GERARD BUTLER PASCA BENCANA!

ROSARIO (2025) – TEROR KUTUKAN MENGERIKAN DI APARTEMEN